Rabu, 18 Januari 2012

Hakikat Pendidikan Nilai dan Sikap


BAB I
PENDAHULUAN
1.      Latar Belakang
Rumusan tujuan pendidikan, merupakan sarat dengan pembentukan sikap. Dengan demikian, tidaklah lengkap manakala dalam strategi pembelajaran tidak membahas strategi pembelajaran yang berhubungan dengan pembentukan sikap dan nilai.
Ada orang yang beranggapan bahwa sikap bukan untuk diajarkan, seperti halnya matematika, fisika, ilmu social, dan lain sebagainya, akan tetapi untuk dibentuk. Oleh karena itu, yang lebih tepat untk bidang afektif bukanlah istilah pengajaran, namun pendidikan. Namun, oleh karena strategi pembelajaran yang dibicarakan dalam naskah ini diarahkan untuk mencapai tujuan pendidikan yang bukan hanya dimensi kognitif tetapi juga dimensi yang lainnya, yaitu sikap dan keterampilan, melalui proses pembelajaran yang menekankan kepada aktivitas siswa sebagai subjek belajar, maka selanjutnya penulis menggunakan istilah strategi pembelajaran afektif, walaupun dalam bahasan selanjutnya kedua istilah itu akan digunakan secara bergantian.


2.      Rumusan Masalah
a.       Hakikat Pendidikan Nilai dan Sikap
b.      Proses Pembentukan Sikap
c.       Model Strategi  Pembelajaran Sikap
d.      Kesulitan dalam Pembelajaran Afektif

3.      Tujuan Masalah
a.       Ingin mengetahui dan menambah wawasan tentang hakikat pendidikan nilai dan sikap.
b.      Ingin mengetahui tentang proses pembentukan sikap.
c.       Ingin mengetahui model strategi pembelajaran sikap.
d.      Ingin mengetahui kesulitan dalam pembelajaran afektif.









BAB II
PEMBAHASAN

Dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 Pasal 3 dijelaska bahwa Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik, agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggungjawab.
Strategi pembelajaran afektif berbeda dengan strategi pembelajaran kognitif dan keterampilan. Afektif berhububgab dengan nilai ( value ), yang sulit diukur, oleh karena menyangkut kesadaran seseorang  yang tumbuh dari dalam. Dalam batas tertentu memang afeksi dapat muncul dalam kejadian behavioral, akan tetapi penilaiannya untuk samoai pada kesimpulan yang bias dipertanggungjawabkan membutuhkan ketelitian dan observasi yang terus menerus, dan hal ini tidaklah mudah untuk dilakukan, apalagi menilai perubahan sikap sebagai akibat dari proses pembelajaran yang dilakukan guru disekolah.
Kita tidak bisa menyimpulkan bahwa sikap anak itu baik, misalnya dilihat dari kebiasaan berbahasa atau sopan santun yang bersangkutan, sebagai akibat dari proses pembelajaran yang dilakukan guru. Mungkin sikap itu terbentuk oleh kebiasaan dalam keluarga dan lingkungan sekitar.

A.     Hakikat Pendidikan Nilai dan Sikap
Telah dijelaskan bahwa sikap ( afektif ) erat kaitannya dengan nilai yang dimiliki seseorang. Sikap merupakan refleksi dari nilai yang dimiliki. Oleh karenanya, pendidikan sikap pada dasarnya adalah pendidikan nilai.
Nilai adalah suatu konsep yang berada dalam pikiran manusia yang bersifat tersembunyi, tidak berada dalam dunia empiris. Nilai berhubungan dengan pandangan seseorang tentang baik dan buruk, indah dan tidak indah, layak dan tidak layak, adil dan tidak adil, dan lain sebagainya. Pandangan seseorang tentang semua itu tidak tidak bisa diraba, kita hanya mungkin dapat mengetahuinya dari prilaku yang bersangkutan. Oleh karena itulah nilai pada dasarnya standar prilaku, ukuran yang menentukan atau kriteria seseorang tentang baik dan tidak baik, indah dan tidak indah, layak dan tidak layak, dan lain sebagainya, sehingga standar itu yang akan mewarnai prilaku seseorang. Dengan demikian, pendidikan nilai pada dasarnya proses penanaman nilai kepada peserta didik yang diharapkan oleh karenanya siswa dapat berprilaku sesuai dengan pandangan yang dianggapnya baik dan tidak bertentangan dengan norma-norma yang berlaku.
Douglas Graham ( Gulo, 2002 ) melihat empat faktor yang merupakan dasar kepatuhan seseorang terhadap nilai tertentu, yaitu :
a.       Normativist. Biasanya kepatuhan pada norma-norma hokum. Selanjutnya dikatakan bahwa kepatuhan ini terdapat dalam tiga bentuk, yaitu : (1) kepatuhan pada nilai atau norma itu sendiri, (2) kepatuhan pada proses tanpa memperdulikan normanya sendiri, (3) kepatuhan pada hasilnya atau tujuan yang diharapkannya dari peraturan itu.
b.      Integralist, yaitu kepatuhan yang didasarkan pada kesadaran dengan pertimbangan-pertimbangan yang rasional.
c.       Fenomenalist, yaitu kepatuhan berdasarkan suara hati atau sekedar basa-basi.
d.      Hedonist, yaitu kepatuhan berdasarkan kepentingan diri sendiri.
Dari keempat factor yang menjadi dasar kepatuhan setiap individu tentu saja yang kita    harapkan adalah kepatuhan yang bersifat normativist, sebab kepatuhan semacam itu adalah kepatuhan yang didasari kesadaran akan nilai, tanpa memperdulikan apakah prilaku itu menguntungkan untuk dirinya atau tidak.
Selanjutnya dalam sumber yang sama dijelaskan, dari empat factor ini terdapat lima tipe  kepatuhan, yaitu :
a.       Otoritarian.
b.      Conformist. Kepatuhan tipe ini mempunyai tiga bentuk, yaitu : (1) conformist directed, (2) conformist hedonist, (3) conformist integral.
c.       Compulsive deviant.
d.      Hedonik psikopatik.
e.       Supramoralist.
Dalam masyarakat yang cepat berubah seperti dewasa ini, pendidikan nilai bagi anak merupkan hal yang sangat penting. Hal ini disebabkan pada era globalisasi dewasa ini, anak akan dihadapkan pada banyak pilihan tentang nilai yang mungkin dianggapnya baik. Pertukaran dan pengikisan nilai-nilai suatu masyarakat dewasa ini akan mungkin terjadi secara terbuka. Nilai-nilai yang dianggap baik oleh suatu kelompok masyarakat bukan tak mungkin akan menjadi lunrut digantikan oleh nilai-nilai baru yang belum tentu cocok dengan budaya masyarakat.

Gulo (2005) menyimpulkan tentang nilai sebagai berikut:
a.       Nilai tidak bisa diajarka tetapi diketahui dari penampilannya.
b.      Pengembangan domain afektif pada nilai tidak bisa dipisahkan dari aspek kognitif dan psikomotorik.
c.       Masalah nilai adalah masalah emosional dan karena itu dapat berubah, berkembang, sehingga bisa dibina.
d.      Perkembangan nilai atau moral tidak terjadi sekaligus, tetapi melalui tahap tertentu.
                     B.Proses Pembentukan Sikap
1.      Pola Pembiasaan
Pada suatu hari Watson melihat ada anak yang senang dengan tikus berbulu putih. Kemana pun anak itu pergi ia selalu membawa tikus putih yang sangat disenanginya. Watson ingin mengubah sikap senang anak terhadap tikus putih menjadi benci atau tidak senang. Maka ketika anak hendak memegang tikus itu, Watson member kejutan dengan suara keras, hingga anak itu terkejut.Terus menerus hal itu dilakukan. Ketika anak mendekati dan hendak membawa tikus itu, dimunculkan suara keras, anak semakin terkejut dan lama-kelamaan anak benar-benar menjadi takut dengan tikus putih itu. Jangankan ia mau memegang atau membawanya, melihatnya saja ia menangis dan ketakutan. Mengapa anak berubah sikapnya dari sikap positif terhadap tikus menjadi sikap negatif? Hal ini disebabkan kebiasaan ( conditioning ). Cara belajar sikap demikian menjadi dasar penanaman sikap tertentu terhadap suatu objek.
Dalam proses pembelajara disekolah,baik secara disadari maupun tidak,guu dapat menanamkan sikap tertentu kepada siswa melalui proses pembiasaan.
Misalnya,siswa yang setiap kali menerima perlakuan yang tidak mengenakkan dari guru,misalnya perilaku mengejek atau perilaku yang menyinggung perasaan anak, maka lama kelamaan akan timbul rasa benci dari anak tersebut,dan perlahan-lahan anak akan mengalihkan sikap negative itu bukan hanya kepada gurunya itu sendiri,akan tetapi juga kepada mata pelajaran yang diasuhnya.kemudian, untuk mengembalikannya pada sikap positive bukanlah pekerjaan mudah.
Belajar membentuk sikap melalui pembiasaan itu juga dilakukan oleh skinner melalui teorinya operant conditioning.Proses pembentukan sikap melalui pembiasaan yang dilakukan Watson berbeda dengan proses pembiasaan sikap yang dilakukan skinner.pembentukkan sikap yang dilakukan skinner menekankan pada proses peneguhan respon pada anak. Setiap kali anak menunjukkan prestasi yang baik diberikan penguatan ( reinforcement ) dengan cara memberikan hadiah atau perilaku yang menyenangkan. Lama kelamaan anak berusaha meningkatkan sikap positifnya.


                       2.Modeling
Pembelajaran sikap seseorang dapat juga dilakukan melalui proses modeling, yaitu pembentukan sikap melalui proses asimilasi atau proses mencontoh.
Salah satu karakteristik anak didik yang sedang berkembang adalah keinginannya untuk melakukan peniruan. Hal yang ditiru itu adalah prilaku-prilaku yang diperagakan atau didemonstrasikan oleh orang yang menjadi idolanya. Prinsip peniruan ini yang dimaksud dengan modeling. Modeling adalah proses peniruan anak terhadap orang lain yang menjadi idolanya atau orang yang dihormatinya.

C.Model Strategi Pembelajaran Sikap
Setiap strategi pembelajaran sikap pada umumnya menghadapkn siswa pada situasi yang mengandung konflik atau situasi yang problematic. Melalui situasi ini diharapkan siswa dapat mengambil keputusan berdasarkan nilai yang dianggapnya baik. Dibawah ini disajikan beberapa model strategi pembelajaran pembentukan sikap.

1.      Model Konsiderasi
Model konsiderasi dikembangkan oleh Mc. Paul, seorang humanis. Paul menganggap bahwa pembentukan moral tidak sama dengan pengembangan kognitif yang rasional. Pembelajaran moral siswa menurutnya adalah pembentukan kepribadian bukan pengembangan intelektual. Oleh sebab itu, model ini menekankan kepada strategi pembelajaran yang dapat membentuk kepribadian. Tujuannya adalah agar menjadi siswa menjadi manusia yag memiliki kepedulian terhadap orang lain. Kebutuhan yang fundamental pada manusia adalah bergaul secara harmonis dengan orang lain, saling member dan menerima dengan penuh cinta dan kasih saying. Dengan demikian, pembelajaran sikap pada dasarnya adalah membantu anak agar dapat mengembangkan kemampuan untuk bisa hidup bersama secara harmonis, peduli, dan merasakan apa yang dirasakan orang lain.
Implementasi model konsideransi guru dapat mengikuti tahapan pembelajaran seperti dibawah ini :
a.       Menghadapka siswa pada suatu masalah yang mengandung konflik, yang sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari.
b.      Menyuruh siswa untuk menganalisis situasi masalah denganmelihat bukan hanya yang tampak, tapi juga yang tersirat dalam permasalahan tersebut.
c.       Menyuruh siswa untuk menuliskan tanggapannya terhadp permasalahan yng dihadapi.
d.      Mengajak siswa untuk menganalisis respons orang lain serta membuat kategori dari setiap respons yang diberikan.
e.       Mendorong siswa untuk merumuskan akibat atau konsekuensi dari setiap tindakan yang diusulkan siswa.
f.        Mengajak siswa untuk memandang permasalahan dari berbagai sudut pandang untuk menambah wawasan agar mereka dapat menimbang sikap tertentu sesuai dengan nulai yang dimilikinya.
g.       Mendorong siswaagar merumuskan sendiri tindakan yang harus dilakukan sesuai dengan pilihannya berdasarkan pertimbangannya sendiri.

2.      Model Pengembangan Kognitif
Model pengembangan kognitif dikembangkan oleh Lawrence Kohlberg. Model ini banyak diilhami oleh pemikiran John Dewey dan Jean Piaget yang berpendapat bahwa perkembangan manusia terjadi sebagai proses dari restrukturisasi kognitif yang berlangsung secara berangsur-angsur menurut urutan tertentu. Menurut Kohlberg, moral manusia itu berkembang melalui 3 tingkat, dan setiap tingkat terdiri dari 2 tahap.
a.       Tingkat Prakonvesianal
Pada tingkat ini setiap individu memendang moral berdasarkan kepentingannya sendiri. Artinya, pertimbangan moral didasarkan pada pandangannya secara individual tanpa menghiraukan rumusan dan aturan yang dibuat oleh masyarakat. Pada tingkat prakonvensional ini terdiri atas dua tahap.
Tahap 1
Orientasi hukuman dan kepatuhan,pada tahap ini perilaku anak didasarkan kepada konsekuensi fisik yang akan terjadi.
Tahap 2
Orientasi instrumental-relatif, pada tahap ini perilaku anak didasarkan kepada rasa “ adil “ berdasarkan aturan permainan yang telah disepakati.

b.      Tingkat Konvensional
Pada tahap ini anak mendekati masalah didasarkan pada hubungan individu-masyarakat. Kesadaran dalam diri anak mulai tumbuh bahwa perilaku itu harus sesuai dengan norma-norma dan aturan yang berlaku dimasyarakat. Dengan demikian, pemecahan masalah bukan hanya didasarkan kepada rasa keadilan belak, akan tetapi apakah pemecahan masalah itu sesuai dengan norma masyarakat atau tidak. Pada tingkat konvensional itu mempunyai 2 tahap sebagai kelanjutan ri tahap yang ada pada tingkat prakonvesional, yaitu tahap keselarasan interpersonal serta tahap system social dan kata hati.
Tahap 3
Keselarasan interpersonal, pada tahapan ini ditandai dengan setiap perilaku yag ditampilkan individu didorong oleh keinginan untuk memenuhi harapan orang lain.
Tahap 4
System social dan kata hati, pada tahap ini perilaku individu bukan didasarkan pada dorongan untuk memenuhi harapan orang lain yang dihormatinya, akan tetapi didasarkan pada tuntutan dan harapan masyarakat.

c.       Tingkat Postkonvesional
Pada tingkat ini perilaku bukan hanya didasarkan pada kepatuhan terhadap norma-norma masyarakat yang berlaku, akan tetapi didasari oleh adanya kesadaran sesuai dengan nilai-nilai yang dimilikinya secar individu. Seperti pada tingkat sebelumnya, pada tingkat ini juga terdiri dari dua tahap.
Tahap 5
Kontrak social,pada tahap ini perilaku individu didasarkan pada kebenaran-kebenaran yang diakui oleh masyarakat. Kesadaran individu untuk berperilaku tumbuh karena kesadaran untuk menerapkan prinsip-prinsip social.
Tahap 6
Prinsip etis yang universal, pada tahap terakhir perilaku manusia didasarka pada prinsip-prinsip universal.

3.      Teknik Mengklarifikasi Nilai
Teknik mengklarifikasi nilai (value clarification technique) atau sering disingkat VCT dapat diartikan sebagai teknik pengajaran untuk membantu siswa dalam mencari dan menentukan suatu nilai yang dianggap baik dalam menghadapi suatu persoalan melalui proses menganlisa nilai yang sudah ada dan tentram dalam diri siswa.
Kelemahan yang sering terjadi dalam proses pembelajaran nilai atau sikap adalah proses pembelajaran dilakukan secara langsung oleh guru, artinya guru menenamkan nilai-nilai yang dianggapnya baik tanpa memperhatikan nilai yang sudah tertanam dalam diri siswa. Akibatnya, sering terjadi benturan atau konflik dalam diri siswa karena ketidakcocokan antara nilai lama yang sudah terbentuk dengan nilai baru yang ditanamkan oleh guru. Siswa sering mengalami kesulitan dalam menyelaraskan nilai lama dan nilai baru.
Salah satu karakteristik VCT sebagai model dalam strategi pembelajaran sikap adalah proses penanaman nilai dilakukan melalui proses analisis nilai yang sudah ada sebelumnya dalam diri siswa kemudian menyelaraskannya dengan nulai-nilai baru yang hendak ditanamkan. VCT sebagai suatu model dalam strategi pembelajaran moral VCT bertujuan:
a.       Untuk mengukur atau mengetahui tingkat kesadaran siswa tentang suatu nilai.
b.      Membina kesadaran siswa tentang nilai-nilai yang dimilikinya baik tingkatannya maupun sifatnya untuk kemudian dibina kea rah  peningkatan dan pembetulannya.
c.       Untuk menenamkan nilai-nilai tertentu kepada siswa melalui cara yang rasional dan diterima siswa, sehingga pada akhirnya nilai tersebut akan menjadi milik siswa.
d.      Melatih siswa bagaiman cara menilai, menerima, serta mengambil keputusan terhadap sesuatu persoalan dalam hubungannya dengan kehidupan sehari-hari di masyarakat.

John Jarolimek (1974) menjelaska langkah pembelajaran dengan VCT dalam 7 tahapyang dibagi ke dalam 3 tingkat. Setiap tahapan dijelas dibawah ini:
I.                    Kebebasan Memilih
Pada tingkat ini terdapat 3 tahap, yaitu:
a.       Memilih secara bebas.
b.      Memiliakan dari beberapa alternative.
c.       Memilih setelah dilakukan analisis pertimbangan konsekuensi yang akan timbul sebagai akibat pilihannya.
II.                 Menghargai
Terdiri atas 2 tahap pembelajaran:
a.       Adanya perasaan senang dan bangga dengan nilai yang menjadi pilihannya, sehingga nilai tersebut akan menjadi bagian integral dari dirinya.
b.      Menegaskan nilai yang sudah menjadi bagian integral dalam dirinya didepan umum.
III.               Berbuat
Terdiri atas:
a.       Kemauan dan kemampuan untuk mencoba melaksanakannya.
b.      Mengulangi perilaku sesuai dengan nilai pilihannya.
Dalam praktik pembelajaran, VCT dikembangkan melalui proses dialog antara guru dan siswa. Proses tersebut hendaknya berlangsung dalam suasana santai dan terbuka, sehingga setiap siswa dapat mengungkapkan secara bebas perasaannya. Beberapa hal yang harus diperhatikan guru dalam mengimplementasikan VCT melalui proses dialog:
a.       Hindari penyampaian pesan melalui proses pemberian nasihat.
b.      Jangan memaksa siswa untuk member respons tertentu apabila memang siswa tidak menghendakinya.
c.       Usahakan dialog dilaksanakan secara bebas dan terbuka, sehingga siswa akan mengungkapkan perasaannya secara jujur dan apa adanya.
d.      Dialog dilaksanakan kepada individu, bukan kepada kelompok kelas.
e.       Hindari respons yang dapat menyebabkan siswa terpojok, sehingga ia menjadi defenisif.
f.        Tidak mendesak siswa pada pendirian tertentu.
g.       Jangan mengorek alas an siswa lebih dalam.
                   D. Kesulitan dalam Pembelajaran Afektif
Disamping aspek pembentukan kemampuan intelektual untuk membentuk kecerdasan peserta didik dan pembentukan keterampilan untuk mengembangka kompetensi agar peserta didik memiliki kemempuan motorik, maka pembentukan sikap peserta didik merupakan aspek yang tidak kalah pentingnya. Proses pendidikan bukan hanya membentuk kecerdasan dan memberikan keterampilan tertentu saja, akan tetapi juga membentuk dan mengembangka sikap agar anak berperilaku sesuai dengan norma-norma yang bersekolah proses pembelajaran sikap kadang-kadang terabaikan. Hal ini di sebabkan proses pembelajaran dan pembentukan akhlak memiliki beberapa kesulitan.
Pertama, selama ini prose pendidikan sesuai dengan kurikulum yang berlaku cenderung diarahkan untuk pembentukan intelektual.
Kedua, sulitnya melakukan control karena banyaknya factor yang dapat mempengaruhi perkembangan sikap seseorang.
Ketiga, keberhasilan pembentukan sikap tidak bisa dievaluasi dengan segera.
Keempat, pengaruh kemajuan teknologi, khususnya teknologi informasi yang menyuguhkan aneka pilihan program acara, berdampak pada pembentukan karakter anak.





BAB III
PENUTUP
1.      Kesimpulan
Nilai adalah suatu konsep yang berada dalam pikiran manusia yang bersifat tersembunyi, tidak berada dalam dunia empiris. Nilai berhubungan dengan pandangan seseorang tentang baik dan buruk, indah dan tidak indah, layak dan tidak layak, adil dan tidak adil, dan lain sebagainya. Pandangan seseorang tentang semua itu tidak tidak bisa diraba, kita hanya mungkin dapat mengetahuinya dari prilaku yang bersangkutan. Oleh karena itulah nilai pada dasarnya standar prilaku, ukuran yang menentukan atau kriteria seseorang tentang baik dan tidak baik, indah dan tidak indah, layak dan tidak layak, dan lain sebagainya, sehingga standar itu yang akan mewarnai prilaku seseorang. Dengan demikian, pendidikan nilai pada dasarnya proses penanaman nilai kepada peserta didik yang diharapkan oleh karenanya siswa dapat berprilaku sesuai dengan pandangan yang dianggapnya baik dan tidak bertentangan dengan norma-norma yang berlaku.

Strategi pembelajaran afektif berbeda dengan strategi pembelajaran kognitif dan keterampilan. Afektif berhububgab dengan nilai ( value ), yang sulit diukur, oleh karena menyangkut kesadaran seseorang  yang tumbuh dari dalam. Dalam batas tertentu memang afeksi dapat muncul dalam kejadian behavioral, akan tetapi penilaiannya untuk samoai pada kesimpulan yang bias dipertanggungjawabkan membutuhkan ketelitian dan observasi yang terus menerus, dan hal ini tidaklah mudah untuk dilakukan, apalagi menilai perubahan sikap sebagai akibat dari proses pembelajaran yang dilakukan guru disekolah.


2.      Saran
Dari penulisan makalah ini yang membahas tentang “ Strategi Pembelajaran Afektif “, dapat menambah wawasan dan pengetahuan bagi para pembaca ataupun penulis sendiri dalam bidang studi Strategi Pembelajaran. Penulis menyadari bahwa tiada manusia yang sempurna dan menyadari terdapat kekurangan didalamnya. Oleh karena itu, penulis mengharapkan maaf dari para pembaca. Kritik dan saran membangun
 Sangat dinantikan untuk perbaikn makalah diwaktu yang akan datang.
http://mizaneducation.blogspot.com/


EmoticonEmoticon