Jumat, 12 Juni 2015

“Balimau Kasai, Tradisi Atau Anjuran”

Mizan Musthofa
Sebelum masuknya islam ke indonesia, mayoritas masyarakat indonesia menganut kepercayaan animisme dan dinamisme. Animisme merupakan kepercayaan terhadap roh-roh yang diyakini memiliki kekuatan gaib, sedangkan dinamisme merupakan kepercayaan terhadap sesuatu benda-benda yang memiliki kekuatan gaib seperti batu, puhon besar, dan lain-lain. Sejarah mencatat bahwa perkembangan islam berjalan lewat budaya ditandai dengan keberadaan para wali atau yang disebut dengan wali songo (sembilan wali). Para wali  menyebarkan islam lewat budaya seperti wayang. Hingga islam tersebar di wilayah nusantara sumatera, kalimantan, sulawesi papua dan seluruh pelosok negeri.

di sumatera kususnya di riau mempunyai banyak tradisi baik itu ritual keagamaan maupun ritual kedaerahan itu sendiri. Ada sebuah ungkapan yang menarik di riau ”tak lekang oleh pana, tak lapuk oleh hujan” ungkapan ini mungkin sangat familiar ditelingan kita sebagai masyarakat melayu, hal inilah yang menandai bahwa masyarakat melayu memiliki peradaban budaya dan mempunyai adat istiadat yang tinggi. Ungkapan tersebut sangat sederhana namum kaya akan interpretasi yang dikandungnya, hal tersebut memberikan deskripsi bahwa adat yang terdapat di daerah kita ini akan selalu eksist dan terus berdiri yang tak akan lapuk dimakan usia ataupun lusuh ditelan zaman yang semakin hari semakin berkembang.
Mandi Balimau adalah tradisi masyarakat melayu Riau yang berlangsung turun-temurun. Tradisi balimau ini dilakukan oleh masyarakat riau ketika menjelang ramadhan dengan tujuan dan maksud mensucikan diri baik lahir maupun bathin. Hal ini terus dilakukan masyarakat ketika menjelang ramadhan disungai-sungai yang ada di Riau.
Mandi balimau menurut masyarakat Riau mempunyai makna yang mendalam, yakni bersuci sehari menjelang ramadhan, baisanya dilakukan secara bersama-sama baik tua ataupun mudan, pria maupun wanita. Tradisi ini berlangsung secara turun temurun yang diwariskan oleh nenek moyang mereka.
Jika kita pahami lebih jauh, mandi balimau ini merupakan filosofi pensucian diri ketika memasuki bulan suci ramadhan, dalam artian membersihkan jiwa raga kita ketika akan berpuasa. Namun pendekatan budaya masyarakat, sehingga pensucian jiwa dan raga tersebut di tuangkan dalam bentuk prilaku yang menurut masyarakat bisa membawa diri kita ke arah pensucian jiwa dan raga yang di sebut dengan balimau. Balimau itu sendiri berasal dari kata limau (jeruk) nipis yang sangat baik untuk membersihkan noda-noda kotor. Dengan begitu tradisi balimau ini ada sampai saat ini dengan maksud membersihkan kotoran yang ada pada tubuh kita.
Jika kita lihat dari kaca mata Islam, Islam sama sekali tidak pernah mengajarkan ketika memasuki bulan suci ramadhan agar mandi menyiram sekujur tubuhnya (mirip madi junub),didalam agama islam sebelum memasuki bulan ramadhan sangat dianjurkan untuk saling mema’afkan satu sama lainnya, karena ramadhan adalah bulan untuk bertaubat, sementara ampunan Allah terhalang jika urusan sesama manusia belum diselesaikan, disamping itu, kaum muslimin dianjurkan untuk mempersiapkan diri sebaik mungkin secara fisik dan fisikis, agar memperoleh hasil secara optimal dalam menjalankan ibadah puasa. Dan bukan dengan mandi balimau kasai yang pada umumnya dilakukan oleh masyarakat riau.
Dalam al-qur’an dijelaskan bahwa tidak ada dianjurkan mandi balimau menjelang ramadhan.

“Wahai orang-orang yang beriman masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan, dan jangan kau mengikuti langkah-langkah syaitan.Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (Q.S. al-Baqarah: 208) atas dasar tersebut maka jelas mandi balimau bukan ajaran islam, tetapi lebih kepada tradisi masyarakat itu sendiri. Oleh karena itu masyarakat harus mampu memahami hakikat tujuan dan maksud mandi balimau. Sehingga tidak mengarah kepada hal-hal yang mengundang syirik. Lebih baik tradisi tersebut diganti dengan introfeksi diri dan mempersiapkan diri untuk melakukan ibadah puasa dengan baik.




EmoticonEmoticon