Jumat, 04 Juli 2014

Indonesia Antara Pendidikan da Pragmatis

Mizan Musthofa
Indonesia Antara Pendidikan da Pragmatis
Oleh: Mizan Musthofa
Sejak kemerdekaan Indonesia dideklarasikan oleh proklamator Indonesia soekarno hatta pada tanggal 17 agustus 19945 yang lalu telah menyimpan banyak  hal lika-liku kehidupan berbangsa dan bernegara. Mulai masalah politik, kesenjangan sosial, kemiskinan, dan yang terpenting harus kita lihat adalah masalah pendidikan.

Perlu kita ingat bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.(UU No 20 tahun 2003).
Dahulu pendidikan pesantern menjadi tolak ukur pendidikan diindonesia, tapi kini pesantren hanya tinggal nama, dimana para santri sudah mulai krisis akibat pengaruh globalisasi yang melanda dunia ketiga ini. Tentu ini menjadi refleksi kita bersama ada apa dengan pesantren saat ini? Mengapa semakin modern semakin merosot kualitasnya? Ini menjadi buah bibir masyarakat saat ini yang perlu jawaban yang konkrit.
Sementara itu pendidikan umum semakin digalakkan, dengan berbagai fasilitas dan sarana pendidikannya, mampu menghipnotis anak masa kini, sehingga membludaknya kuantitas pendidikan umum ini. Walaupun pada kenyataannya peserta didik hanya didoktrin untuk bagaimana bisa dapat nilai yang bagus, dan dapat kerja, serta endingnya adalah uang. Tanpa berfikir bagaimana bisa merubah tatanan masyarakat Indonesia menuju kehidupan yang sejahtera.
Melihat kondisi pendidikan saat ini, sangat memprihatinkan dimana pendidikan hanya menjadi lading bisnis, jauh dari hakikat tujuan yang sebenarnya pendidikan. Banyak contoh konkrit yang bisa kita lihat seperti para lulusan sarjana, mereka tidak ubahnya seperti pembisnis yang selalu berfikir bagaimana modal kuliahnya bisa kembali secepat mungkin. Sehingga mereka lupa akan tugasnya menjadi agent of change, dan agent of control social. Sehngga pendidikan kita mengarah ke pragmatis, yang pada ahirnya adalah materi/uang.
Semoga ini menjadi refleksi awal kita untuk bisa mngubah cara berfikir kita untuk merevolusi pendidikan yang ada diindonesia.



EmoticonEmoticon