Rabu, 14 Desember 2016

Kemana Arah dan Cita-cita Himpunan (Refleksi Milad HMI 14 rabiul awal 1438 H)

HMI-MPO
Kemana Arah dan Cita-cita Himpunan
(Refleksi Milad HMI 14 rabiul awal 1438 H)
Oleh: Kang Mizan

Perjalanan panjang Himpunan Mahasiswa Islam atau HMI (Read: MPO dan Dipo) saat ini, tidak terlepas dari sejarahnya. Sudah sepatutnya setiap kader tahu sejarah himpunan tercinta ini. Secara singkat HMI berdiri pada tanggal 14 rabiul awal 1366 H atau bertepatan
dengan 5 febuari 1947 M. tetap hari Rabu Pon dalam perhitungan jawa. Didepan kelas (ruang kuliah) seorang mahasiswa bernama Lafran Pane, mahasiswa sekolah tinggi islam (STI) sekarang UII Jogjakarta. Sejak berdirinya, HMI merupakan organisasi independen yang berbasis kemahasiswaan, yang mengutamakan kebebasan berfikir dan bertindak sesuai dengan hati nurani. Komitmen pada garis perjuangan Islam dalam bingkai keindonesiaan merupakan satu ciri idealisme yang selalu dipegang teguh oleh setiap kader HMI. Hal ini tercantum dalam tujuan awal HMI itu sendiri, yakni;
a.       Mempertahankan negera kesatuan republik Indonesia dan mempertinggi derajat rakyat Indonesia
b.      Mebegakkan dan mengembangkan agama islam

Sejarah panjang pun mencatat perjalanan awal himpunan, bahwa HMI sebagai wadah perjuangan bagi para kadernya. Diera 50 an juga tercatat sebagai masa Dis-Organized (kekacauan organisasi) ditandai dengan penyatuan kampus-kampus diintegrasikan kedalam UGM (baca juga:  http://mizaneducation.blogspot.co.id/2015/02/hmi-dahulu-dan-kini-ihtiar-menjawab.html ). Keberlanjutan Himpunan pun terus bergelut dengan dinamika bangsa ini, diera 60 an, HMI menjadi musuh bersama setelah Masyumi oleh beberapa tokoh kontra revolusi. Orde baru juga tidak lepas dari bayang-banyang HMI. Sampai pada detik dimana ditubuh HMI sendiri mengalamai konflik internal. Dengan permasalahan berlakunya azas tuggal pancasila. Hal ini yang menyebabkan HMI terpencah menjadi dua kelompok. Yang satunya menyebut dirinya sebagai HMI MPO (Baca: Sejarah HMI dari Zaman Kemerdekaan sampai Reformasi, Muhammad Chozin Amirulah), hingga sekarang. Dua HMI   berjalan dengan seiringan sejalan mesti beda haluan. Yang jelas keduanya memiliki cita cita mulia. Sama-sama ingin mewujudkan tatanan masyarakat yang diridhai Allah SWT.

Secara Umum gambaran masyarakat yang diridhoi Allah SWT yang tertuang dalam bait tujuan HMI merupakan sinonim dari kata qu’ran yang menyebut baldatun toyyibun warabbun ghofur. Kata baldatun toyyibun warabbun ghofur sendiri dijelaskan Allah dalam surat Saba’ ayat 15. Di ayat tersebut ada Negeri Saba, Asy-Syaukuni menafsirkan baldatun toyyibun dengan makna negeri yang baik. Para ahli tafsir lainnya mengatakan sebuah negeri yang subur makmur dan penuh dengan cinta serta kasih sayang (baca juga: https://almanhaj.or.id/4276-baldatun-thayyibatun-wa-rabbun-ghafur.html).

Lalu adakah kesamaannya dengan Indonesia? Tentu sudah pasti ada, orang atau Negara lain mengenal Indonesia bukan hanya karena terletak pada garis equator katulistiwa, melainkan lebih pada Sumber daya alamnya yang melimpah dan juga keberagaman manusia yang ada di bumi Indonesia. Tak terhitung berapa kayanya negeri ini atas kekayaan sumber daya alam yang ada, dan berapa banyaknya suku, budaya, dan tradisi yang membuat iri bangsa lainnya dengan Indonesia. Setidaknya itulah secara umum gambaran persamaan negeri saba dengan bumi Indonesia.

Cita cita HMI selaras dengan isi kitab al-quran tersebut, secara sadar kader Himpunan tahu bahwa mewujudkan impian tersebut bukanlah hal yang mudah seperti membalikkan telapak tangan, butuh waktu dan perjuangan ekstra untuk meraih mimpi-mimpi besar tersebut. Sebelum terlalu jauh, mari kita falsh back sejenak mengingat tema kongres November 2015 lalu. HMI (baca: MPO) mengangkat grand tema “HMI untuk NKRI Berdaulat”. Ada tiga point penting dari hasil kongres ke 30 ditanggerang diantaranya:
Pertama, kata berdaulat. Kata ini tersurat dalam pembukaan UUD 45 berdaulat adil dan makmur.  Bagi HMI kedaulatan adalah hal yang penting, kemandirian sebuah bangsa harus menjadi prioritas utama, berdaulat secara ekonomi, social, budaya, dan politik. Kedua,menjadikan HMI sebagai wadah kader unggulan bangsa. Dengan mengedepankan modal besar yang dimiliki oleh kalangan kader HMI seperti intelektualisme dan jaringan yang cukup memadai baik secara nasional maupun internasional. Ketiga, menjadikan islam sebagai landasan ideologys atau rahmatalil alamin bagi seluruh kehidupan masyarakat Indonesia. Lalu apakah dengan ketiga modal tersebut sudah menjadi alternative gerakan kader HMI untuk melangkah mewujudkan tatanan masyarakat yang diridhoi Allah SWT? Semuanya bisa saja mungkin terjadi, apa yang tidak mungkin jika niat baik dan optimisme selalu menjadi motivasi kader HMI. (Baca Juga: http://mizaneducation.blogspot.co.id/2015/11/kader-hmi-mpo-menatap-masa-depan-bangsa.html ).

sebagai ornanisasi HMI MPO dapat dikenali dengan berbagai cara, antara lain; melalui atribut-atribut organisasi, jargon-jargon gerakan. Sedangkan out put organisasi berupa karya dan kader-kadernya yang memiliki multi skill. Mengidentifikasi HMI dengan hal-hal tersebut dipandang amat sederhana, karena terbukti bahwa kesemuanya tak mampu mewakili kedalaman cita-cita  pejuangan HMI-MPO.  memberi inspirasi bagi keberlanjutan perjuangan, apalagi jika dikaitkan dengan upaya untuk mempertahankan daya juang kader sepanjang hayat. Diperlukan satu konsep yang menggambarkan semangat ideologis kader HMI yang dapat menjawab kebutuhan tentang pentingnya daya tahan setiap kader dalam mengawal cita-cita perjuangannya. Hal ini diyakini lebih memiliki keunggulan dibandingkan sekadar atribut, simbol, jargon, ataupun klaim terhadap alumni dan kader yang “sukses” di bidang tertentu. Artinya, HMI belum dapat digambarkan dengan mengedepankan hal-hal tersebut.

Khittah Perjuangan HMI merupakan dokumen yang menggambarkan konsepsi ideologis sebagai upaya kader memberi penjelasan tentang cara pandang HMI mengenai semesta eksistensi yang wajib diakui, kebenaran yang wajib diperjuangkan, jalan hidup yang wajib dijunjung tinggi, cita-cita yang perlu diraih, dan nilai-nilai yang mengikat atau menjiwai kehidupannya secara individual maupun sosial. Khittah Perjuangan merupakan paradigma gerakan atau manhaj yang merupakan penjelasan utuh tentang pilihan ideologis, yaitu prinsip-prinsip penting dan nilai-nilai yang dianut oleh HMI sebagai tafsir utuh antara azas, tujuan, usaha dan independensi HMI.

Lantas bagaimana HMI melihatnya? Sebagai lembaga yang memiliki tujuan mulia tentu melihatnya dengan cara pandang tersendiri. Mengawalinya dengan perkaderan yang baik dan mengedepankan kualitas insane cita HMI atau manusia yang ulil albab akan menjadi penentu arah kemana HMI-PO akan dibawa. Penulis membaca salah satu artikel teman-teman dari HMI dengan tema HMI dalam memperjuangkan kaum mustad’afien. (kaum yang lemah) dalam hal ini menjadi repesentasi kader HMI untuk membangun konsep peradaban yang islami. Lahirnya Muhammad sebagai Nabi terahir dengan membawa Islam yang rahmatalill alamin banyak menawarkan jawaban atas problematika kehidupan masyarakat dengan quran dan haditsnya. Menanamkan nilai-nilai islam dalam kehidupan masyarakat agar harapan terlaksananya keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia ( Baca juga: http://artfalsafah.blogspot.co.id/2013/09/hmi-mpo-dalam-memperjuangkan-kaum.html ).

Meskipun demikian apakah lantas tujuan Himpunan akan berubah?, tentu tidak, tujuan akan tetap pada mulanya yakni terbinanya mahasiswa islam menjadi insane ulil albab yang turut bertanggung jawab atas terwujudnya tatanan masyarakat yang diridhoi Allah SWT. Meminjam istilah ketua umum PB HMI 2011-2013 Alto Makmuralto. HMI-MPO memanglah terlahir sebagai anak bandel (Theking), namun demikian bukan berarti mereka (kader HMI-MPO) anti kemapanan, melainkan menjaga kemewahannya ditengah kehidupan yang materialistis. Toh ternyata tidak semua kader HMI-MPO idealis. Mungkin juga termasuk penulis (tanda kutip). Bertanya kehilangan arah, mungkin juga tidak. Lalu kemana sebenarnya arah himpunan ini? Arahnya akan tetap sama membina mahasiswa menjadi insane yang ulil albab dan mewujudkan tatanan masyarakat yang islami. Dalam tujuan HMI-MPO ada dua frasa yakni terbinannya Mhasasiswa islam menjadi insane ulil abab disinilah letak perkaderan HMI-MPO, membina setiap mahasiswa untuk dijadikan sebagai manusia yang paripurna. Terus bagaimana indikatornya? Indikatornya sudah tertuang dalam Khittah Perjuangan HMI ada sepuluh karakteristik insane ulil albab diantara hanya takut pada Allah dan seterusnya, serta ihtiar membentuk diri kader sebagai manusia mujahid, mujaddid, mujtahid, serta mu’abbid. Maka, yang demikian ini merupakan hasil dari perkaderan HMI-MPO itu sendiri. Kemudian terwujudnya tatanan masyarakat yang diridhoi Allah SWT akan tergambar dari hasil perkaderan, dimana kader (mewakili masyarakat) memiliki indicator Ulil albab diatas.

Wallahu a’lam bisshowab.

Tulisan ini hanya refleksi penulis pada sempena milad HMI yang ke 72 14 rabiul awal 1366-1438. Jika terdapat hal-hal yang tidak sesui dengan mestinya merupakan keawaman penulis dalam memahami HMI (MPO) secara mendalam, dan dimohon untuk saling membenarkan agar tetapterjaga kualitas kader dan Himpunan. (Mizan Musthofa)


EmoticonEmoticon