Kamis, 22 Desember 2011

FILOSOFI PENDIDIKAN


FILOSOFI PENDIDIKAN
Filosofi pendidikan merupakan foundasi yang dibentuk untuk menjadi dasar dari pendidikan itu sendiri. Pendidikan akan berjalan sesuai dengan dasar yang telah dipilih. Filosofi pendidikan seharusnya berpusat kepada Sang Pencipta. Menurut almarhum mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Fuad Hassan bahwa filosofi pendidikan di Indonesia adalah yang terbaik di dunia. Mengapa bisa demikian? Karena filosofi pendidikan di Indonesia sudah berdasarkan kepada Ketuhanan Yang Maha Esa.Filosofi pendidikan di Indonesia sudah memiliki dasar yang sangat tepat. Dengandemikian ada filosofi pendidikan yang tidak berdasarkan kepada Tuhan.Secara garis besar, filosofi pendidikan dapat dibedakan menjadi 2, yaitu filosofi pendidikan yang berdasarkan kepada Tuhan (dipandang dari worldview kekristenan) dan filosofi pendidikan sekuler. Filosofi pendidikan Kristen merupakan sumberdari seluruh dimensi filsafat pendidikan yang hanya berpusat kepada Allah. Secara ideal, seharusnya tidak ada kompensasi terhadap pendidikan diluar daripada itu, yaitu pendidikan sekuler.Pendidikan sekuler dapat diungkapkan sebagai pendidikan tanpa Allah (Godless education). Jika filosofi pendidikan Kristen berbasiskan pada kebenaran Firman Tuhan, maka pendidikan sekuler dibangun di atas paradigma ateistik maupun humanistik. Perbedaan konsep yang mutlak berbeda.
Pendidikan Kristen dan humanis berasal dari titik awal yang sangat bertolak belakang. Antara kekekalan dan kesia-siaan,antara keselamatan dan kebinasaan, antara kebenaran dan kemunafikan.Manusia pada umumnya tidak menyadari adanya limited yang dimiliki oleh sesosok pribadi yang mempunyai pemikiran-pemikiran brilian. Hal ini dapat dibuktikan dengan bayaknya filosofi pendidikan yang didasarkan pada hasil pemikiran tokoh-tokohternama dibidang filsafat. Saya akan membahas empat aliran filosofi pendidikanyang pada umumnya banyak diaplikasikan pada dunia pendidikan, yaitu perenialism,essentialism, progressivism, dan rekonstruktivsm.Perenialism memiliki tujuan untuk menuntun kemampuan-kemampuan yang masih tidurmenjadi aktif atau nyata tergantung pada kesadaran tiap-tiap individu. Perenialism cenderung menekankan pengetahuannya kepada seni dan sains dengan dimensi perennial yang bersifat integral dengan sejarah manusia. Aliran ini menganggap bahwamenggunakan kembali nilai-nilai atau prinsip-prinsip umum yang telah menjadi pandangan hidup yang kuat dan kukuh pada zaman kuno dan abad pertengahan merupakanaspek yang sangat bernilai. Individu dibimbing untuk membaca materi pengetahuansecara langsung dari buku-buku sumber yang asli sekaligus teks modern. Jadi, fokusnya adalah pada perkembangan personal. Perenialism menempatkan seorang guru untuk bertugas hanya sebagai penology untuk membangkitkan potensi yang masih tersembunyi dari anak agar menjadi lebih aktif dan nyata. Perenialsm memposisikan para pemikir besar seperti Plato, Aristoteles, dan Thomas Aquinas sebagai patokandari sebuah kebenaran dalam dunia pendidikannya.Filosofi yang kedua adalah essentialism. Filosofi ini memiliki tujuan akhir mengantarkan manusia ke dalam pikiran dan alam modern yang ditandai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Konsep ini bertumpu pada nilai- nilai yang telah teruji keteguhan-ketangguhannya dan kekuatannya sepanjang masa, yaitu teknologi. Berpijak pada nilai-nilai yang memiliki kejelasan dan tahan lama yang memberikankestabilan dan nilai-nilai terpilih yang mempunyai pola yang jelas. Konsentrasipembelajarannya menitik beratkan pada materi-materi dasar tradisional seperti: membaca, menulis, sastra, bahasa asing, matematika, sejarah, sains, seni dan musik. Menekankan data fakta dengan kurikulum yang tampak bercorak modernisasi. Nilai itu tidak dapat ditandai dengan suatu konsep tunggal, karena minat, perhatiandan pengalaman seseorang menentukan adanya kualitas dari pendidikan itu sendiri.Essentialism mengambil dari pemikiran-pemikiran Georg Wilhelm Friedrich Hegel,dan George Santayana sebagai tokoh panutan.Progressivism memiliki tujuan untuk mempertinggi taraf kehidupan sosial yang sangat kompleks. Pendidikan harus terpusat pada anak dan tidak memfokuskan pada guru atau materi yang akan diajarkan. Progressivism merupakan pendidikan yang berpusat pada siswa itu sendiri. Memberi penekanan lebih besar pada kreativitas, aktivitas, belajar naturalistik, hasil belajar dunia nyata, serta tidak menghendakiadanya mata pelajaran yang diberikan terpisah, melainkan harus terintegrasi dalam unit yag sudah ditetapkan. Dasar pemikiran seperti ini sempat diterapkan di In

bih penting dan kurang memperhatikan kegiatan sehari-hari. Pendidikan yang menganut faham ini menekankan pada kebenaran absolut, kebenaran universal yang tidakterikat pada tempat dan waktu. Aliran ini lebih berorientasi ke masa lalu.2.Essensialisme menekankan pentingnya pewarisan budaya dan pemberian pengetahuan dan keterampilan pada peserta didik agar dapat menjadi anggota masyarakatyang berguna. Matematika, sains dan mata pelajaran lainnya dianggap sebagai dasar-dasar substansi kurikulum yang berharga untuk hidup di masyarakat. Sama halnya dengan perenialisme, essesialisme juga lebih berorientasi pada masa lalu.3.Eksistensialisme menekankan pada individu sebagai sumber pengetahuan tentang hidup dan makna. Untuk memahamu kehidupan seseorang mesti memahami dirinyasendiri. Aliran ini mempertanyakan bagaimana saya hidup di dunia? Apa pengalamanitu?4.Progresivisme menekankan pada pentingnya melayani perbedaan individual,berpusat pada peserta didik, variasi pengalaman belajar dan proses. Progresivisme merupakan landasan bagi pengembangan belajar peserta didik aktif.5.Rekonstruktivisme merupakan elaborasi lanjut dari aliran progresivisme.Pada rekonstruksivisme, peradaban manusia masa depan sangat ditekankan. Disamping menekankan tentang perbedaan individual seperti pada progresivisme, rekonstuktivisme lebih jauh menekankan tentang pemecahan masalah, berfikir kritis dan sejenisnya. Aliran ini akan mempertanyakan untuk apa berfikir kritis , memecahkan masalah, dan melakukan sesuatu? Penganut aliran ini menekankan pada hasil belajardan proses.Aliran filsafat Perenialisme, Essensialisme, eksistensialisme merupakan aliran filsafat yang mendasari terhadap pengembangan Model Kurikulum Subjek-Akademis. Sedangkan, filsafat progresivisme memberikan dasar bagi pengembangan Model Kurikulum Pendidikan Pribadi. Sementara, filsafat rekonstruktivisme banyak diterapkan dalam Pengembangan Model Kurikulum Interaksional.Masing-masing aliran filsafat pasti memiliki kelemahan dan keunggulan tersendiri. Oleh karena itu, dalam praktek pengembangan kurikulum, penerapan aliran filsafat cenderung dilakukan secara eklektif untuk lebih mengkompromikan dan mengakomodasikan berbagai kepentingan yang terkait dengan pendidikan. Meskipun demikian saat ini, pada beberapa negara dan khususnya di Indonesia, tampaknya mulai terjadi pergeseran landasan dalam pengembangan kurikulum, yaitu dengan lebih menitikberatkan pada filsafat rekonstruktivisme.1.Landasan PsikologisNana Syaodih Sukmadinata (1997) mengemukakan bahwa minimal terdapat dua bidang psikologi yang mendasari pengembangan kurikulum yaitu (1) psikologi perkembangandan (2) psikologi belajar. Psikologi perkembangan merupakan ilmu yang mempelajari tentang perilaku individu berkenaan dengan perkembangannya. Dalam psikologi perkembangan dikaji tentang hakekat perkembangan, pentahapan perkembangan, aspek-aspek perkembangan, tugas-tugas perkembangan individu, serta hal-hal lainnya yangberhubungan perkembangan individu, yang semuanya dapat dijadikan sebagai bahanpertimbangan dan mendasari pengembangan kurikulum. Psikologi belajar merupakan ilmu yang mempelajari tentang perilaku individu dalam konteks belajar. Psikologibelajar mengkaji tentang hakekat belajar dan teori-teori belajar, serta berbagaiaspek perilaku individu lainnya dalam belajar yang semuanya dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan sekaligus mendasari pengembangan kurikulum.Masih berkenaan dengan landasan psikologis, Ella Yulaelawati memaparkan teori-teori psikologis yang mendasari Kurikulum Berbasis Kompetensi. Dengan mengutip pemikiran Spencer, Ella Yulaelawati mengemukakan pengertian kompetensi bahwa kompetensi merupakan ”karakteristik mendasar dari seseorang yang merupakan hubungan kausal dengan referensi kriteria yang efektif dan atau penampilan yang terbaik dalampekerjaan pada suatu situasi”.Selanjutnya, dikemukakan pula tentang 5 tipe kompetensi, yaitu:1.Motif; sesuatu yang dimiliki seseorang untuk berfikir secara konsisten atau keinginan untuk melakukan suatu aksi.2.Bawaan; yaitu karakteristik fisisk yang merespons secara konsisten berbagai situasi atau informasi.3.Konsep diri; yaitu tingkah laku, nilai atau image seseorang.4.Pengetahuan; yaitu informasi khusus yang dimiliki seseorang;

5.Keterampilan; yaitu kemampuan melakukan tugas secara fisik maupun mental.Kelima kompetensi tersebut mempunyai implikasi praktis terhadap perencanaan sumber daya manusia atau pendidikan. Keterampilan dan pengetahuan cenderung lebih tampak pada permukaan ciri-ciri seseorang, sedangkan konsep diri, bawaan dan motiflebih tersembunyi dan lebih mendalam serta merupakan pusat kepribadian seseorang. Kompetensi permukaan (pengetahuan dan keterampilan) lebih mudah dikembangkanPelatihan merupakan hal tepat untuk menjamin kemampuan ini. Sebaliknya, kompetensi bawaan dan motif jauh lebih sulit untuk dikenali dan dikembangkan.1.Landasan Sosial-BudayaKurikulum dapat dipandang sebagai suatu rancangan pendidikan. Sebagai suatu rancangan, kurikulum menentukan pelaksanaan dan hasil pendidikan. Kita maklumi bahwapendidikan merupakan usaha mempersiapkan peserta didik untuk terjun kelingkungan masyarakat. Pendidikan bukan hanya untuk pendidikan semata, namun memberikan bekal pengetahuan, keterampilan serta nilai-nilai untuk hidup, bekerja dan mencapai perkembangan lebih lanjut di masyarakat.Peserta didik berasal dari masyarakat, mendapatkan pendidikan baik formal maupuninformal dalam lingkungan masyarakat dan diarahkan bagi kehidupan masyarakat pula. Kehidupan masyarakat, dengan segala karakteristik dan kekayaan budayanya menjadi landasan dan sekaligus acuan bagi pendidikan.Dengan pendidikan, kita tidak mengharapkan muncul manusia – manusia yang menjadi terasing dari lingkungan masyarakatnya, tetapi justru melalui pendidikan diharapkan dapat lebih mengerti dan mampu membangun kehidupan masyakatnya. Oleh karena itu, tujuan, isi, maupun proses pendidikan harus disesuaikan dengan kebutuhan, kondisi, karakteristik, kekayaan dan perkembangan yang ada di masyakarakat.Setiap lingkungan masyarakat masing-masing memiliki-sosial budaya tersendiri yang mengatur pola kehidupan dan pola hubungan antar anggota masyarkat. Salah satuaspek penting dalam sistem sosial budaya adalah tatanan nilai-nilai yang mengatur cara berkehidupan dan berperilaku para warga masyarakat. Nilai-nilai tersebutdapat bersumber dari agama, budaya, politik atau segi-segi kehidupan lainnya.Sejalan dengan perkembangan masyarakat maka nilai-nilai yang ada dalam masyarakat juga turut berkembang sehingga menuntut setiap warga masyarakat untuk melakukan perubahan dan penyesuaian terhadap tuntutan perkembangan yang terjadi di sekitar masyarakat.Israel Scheffer (Nana Syaodih Sukamdinata, 1997) mengemukakan bahwa melalui pendidikan manusia mengenal peradaban masa lalu, turut serta dalam peradaban sekarang dan membuat peradaban masa yang akan datang. Dengan demikian, kurikulum yang dikembangkan sudah seharusnya mempertimbankan, merespons dan berlandaskan pada perkembangan sosial-budaya dalam suatu masyarakat, baik dalam konteks lokal, nasional maupun global.1.Landasan Ilmu Pengetahuan dan TekhnologiPada awalnya, ilmu pengetahuan dan tekhnologi yang dimiliki manusia masih relatif sederhana, namun sejak abad pertengahan mengalami perkembangan yang pesat. Berbagai penemuan teori-teori baru terus berlangsung hingga saat ini dan dipastikankedepannya akan terus semakin berkembang.Akal manusia telah mampu menjangkau hal-hal yang sebelumnya merupakan sesuatu yang tidak mungkin. Pada jaman dahulu kala, mungkin orang akan menganggap mustahilkalau manusia bisa menginjakkan kaki di Bulan, tetapi berkat kemajuan dalam bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi pada pertengahan abad ke-20, pesawat Apollo berhasil mendarat di Bulan dan Neil Amstrong merupakan orang pertama yang berhasil menginjakkan kaki di Bulan.Kemajuan cepat dunia dalam bidang informasi dan teknologi dalam dua dasa warsa terakhir telah berpengaruh pada peradaban manusia melebihi jangkauan pemikiran manusia sebelumnya. Pengaruh ini terlihat pada pergeseran tatanan sosial, ekonomidan politik yang memerlukan keseimbangan baru antara nilai-nilai, pemikiran dancara-cara kehidupan yang berlaku pada konteks global dan lokal.Selain itu, dalam abad pengetahuan sekarang ini, diperlukan masyarakat yang berpengetahuan melalui belajar sepanjang hayat dan standar mutu tinggi. Sifat pengetahuan dan keterampilan yang harus dikuasai masyarakat sangat beragam dan canggih, sehingga diperlukan kurikulum yang disertai dengan kemampuan meta-kognisi dan

kompetensi untuk berfikir dan belajar bagaimana belajar (learning to learn) dalam mengakses, memilih dan menilai pengetahuan, serta menngatasi situasi yang ambigu dan antisipatif terhadap ketidakpastian.Perkembangan dalam bidang Ilmu Pengetahuan dan Tekhnologi, terutama dalam bidangtransportasi dan komunikasi telah mampu merubah tatanan kehidupan manusia. Olehkarena itu, kurikulum seyogyanya dapat mengakomodir dan mengantisipasi laju perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi untuk kemaslahatan dan kelangsungan hidup manusia.KESIMPULANDari pembahasan pada makalah diatas kita telah mengetahui tentang apa yang dimaksud dengan kurikulum dan apa saja yaang meiandasi terbentuknya kurikulum. Kita dapat menyimpulkan hal – hal sebagai berikut:1.Pengertian KurikulumDari berbagai macam pengertian kurikulum yang telah dipaparkan dala pembahasan diatas kita dapat menarik garis besar pengertian kurikulum yaitu:Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatanpembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.2. Landasan KurikulumDari pembahasan makalah ini kami mengambil garis besar dari beberapa landasan kurikulum, yaitu meliputi:1) Landasan Filosofis2) Landasan Psikologis3) Landasan Sosial-budaya dan,4) Landasan Ilmu pengetahuan dan teknologi5) Landasan Kebutuhan Pembangunan ________________________________________ [1] Dr. Oemar Hamalik, Kurikulum dan Pembelajaran, Jakarta : Bumi Aksara , 2007.hlm 16.[2] Dr. S. Nasution, M.A, Asas-Asas Kurikulum, Jakarta : Bumi Aksara, 2006. hlm2.[3] Dr. Oemar Hamalik, Kurikulum dan Pembelajaran, Jakarta : Bumi Aksara , 2007.hlm 18.[4] www.ktsp.diknas.go.id/download/ktsp_smk/01.ppt[5] www.kopertis4.or.id[6] www.bsn.or.id/SNI
http://mizaneducation.blogspot.com/


EmoticonEmoticon